Studi: Pria Usia 25–35 Alami Lonjakan Stres, Bukan karena Usia tapi Ekspetasi Hidup
Corewide Newsroom
Penulis
Sejumlah survei internasional menunjukkan usia dewasa muda, khususnya rentang 25–35 tahun, sering berada pada puncak tekanan psikologis. Studi tentang pekerja muda di Inggris misalnya menunjukkan tingkat absensi akibat stres meningkat pada kelompok usia 25–34, yang dikaitkan dengan beban kerja, ketidakpastian karier, serta tekanan ekonomi.
Di saat yang sama, survei kesehatan mental di Amerika Serikat menunjukkan kelompok usia muda lebih sering melaporkan stres dan kecemasan dibanding kelompok usia lebih tua. Faktor pemicu utamanya konsisten: biaya hidup yang meningkat, tekanan finansial, dan ketidakpastian masa depan. Dalam situasi ini, ekspektasi sosial—seperti harus “mapan” di usia tertentu—membuat beban psikologis terasa lebih berat.
Walau banyak survei tersebut tidak secara eksklusif menyoroti pria, tekanan peran sosial terhadap laki‑laki—misalnya ekspektasi menjadi pencari nafkah utama atau mencapai standar karier tertentu—sering kali membuat mereka merasakan beban tambahan. Hal ini terlihat dari diskusi publik tentang “quarter‑life crisis” yang banyak muncul di usia akhir 20‑an hingga awal 30‑an.
Kesimpulannya, lonjakan stres di usia 25–35 tidak semata karena faktor usia biologis, melainkan akibat ekspektasi hidup yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi. Dorongan untuk menyelaraskan karier, relasi, dan kondisi finansial dalam waktu singkat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda saat ini.
Komentar
Silakan masuk untuk mengirim komentar.
Masuk AkunBelum ada komentar.

